Meulaboh (ANTARA Aceh) - Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) menyatakan 80 persen petani sawit di Provinsi Aceh mengunakan bahan tanaman palsu sehingga produktivitas tidak mampu mendongkrak perekonomian masyarakat.

Ketua Tim Program Sawit Untuk Rakyat (Prowitra) PPKS Medan Fakhullah di Meulaboh, Rabu mengatakan bahan tanaman tidak unggul banyak beredar dipasar sejumlah Kabupaten/kota di Aceh yang menjadi sentra produksi tanaman sawit.

"Kalau tanaman unggul digunakan berdasarkan penelitian bahan tanaman kita bisa berproduksi 32 ton sampai 39 ton per hektar pertahun, sementara kalau tidak mengunakan bahan unggul paling bisa cuma 10 ton per hektar/tahun. Bayangkan jauhnya sangat rugi petani, kalau masyarakat pingin maju gunakanlah tanaman  unggul,"katanya.

Fakhullah menjelaskan, ditargetkan sampai 2017 PPKS menjajaki kerja sama dengan pemerintah Aceh untuk program prowitra mencapai 5.000 hektar. Tujuannya untuk menjangkau sentra perkebunan rakyat dan memberi akses gampang kepada petani Aceh.

Tujuan lain dari sistem jemput bola penjualan bibit unggul kepada masyarakat kata dia sebagai edukasi sehingga para petani tidak terus tertipu dengan membeli bahan tanaman palsu sawit yang saat ini beredar di pasar dan mudah didapatkan.

Katanya, bahan unggul tanaman sawit hanya dijual secara legal oleh PPKS yang disertai dengan proses administrasi kepemilikan yang jelas dan sah sesuai target luas tanam serta kondisi lahan juga menjadi pertimbangan.

"PPKS tidak sembarangan mengeluarkan bahan tanaman sawit, kami tidak punya cabang, agen ataupun distributor atau calo tidak ada didaerah, kita program sawit rakyat ini keliling Aceh per dua bulan sekali turun ke masyarakat,"tegasnya.

PPKS Medan Sumatera Utara memetakan kawasan barat selatan Aceh sebagai salah satu daerah sentra produksi tanaman sawit dan sangat menjanjikan bila dikembangkan, hanya saja produksi petani realisasinya masih begitu rendah karena kwalitas dari bibit yang dugunakan belum

Kata dia, pihaknya sendiri turun kepatani sejak 2010-2015 ini sudah menyalurkan 600.000 kecambah dengan delapan varietas ke seluruh Aceh, jumlah tersebut harusnya masih terbilang sedikit bila melihat luas area tanaman sawit petani Aceh.

Sementara itu Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Kadishutbun) Aceh Barat Ir Nasrita mengatakan, harga jual bahan tanaman sawit PPKS diakui sedikit tinggi, faktor tersebut membuat petani lebih memilih membeli bibit sawit yang tidak unggul.

"Bibti unggul harganya sedikit mahal Rp7.500 per kecambah, jadi kalau ada masyarakat hari ini membeli dibawah harga itu, maka jelas bukan bibit unggul kalaupun itu ada kemasanya dari BPKS, karena setiap yang dikeluarkan oleh BPKS dilengkapi adminsitrasi, terdata semuanya,"katanya.

Nasrita menjelaskan, diakui memang produksi tanaman sawit masyarakat setempat masih relatif rendah dan faktor yang menyebabkan hal tersebut bukan hanya karena bibit kurang baik namun juga kondisi pengelolaan yang masih serba terbatas.


Uploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2025