Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengidentifikasi sekitar 30 ribu hektare tambak budidaya perikanan rusak akibat banjir yang melanda beberapa wilayah di Aceh.
"Tambak yang rusak imbas banjir terjadi di 16 kabupaten/kota di Aceh," kata Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono usai meninjau lokasi budidaya terdampak banjir di Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara, Jumat.
Ia menyebutkan Kabupaten Aceh Utara menjadi yang paling terdampak dengan luasan lebih dari 10 ribu hektare, disusul Kabupaten Bireun (4,9 ribu hektare) dan Aceh Tamiang (3,4 ribu hektare).
Menurut dia, tingkat kerusakan bervariasi, mulai ringan hingga sangat berat, mengakibatkan lebih dari 30 ribu pembudidaya mengalami kerugian.
“Kami sudah melakukan identifikasi. Tambak terdampak yang rusaknya sangat berat ada sekitar 300an hektare, sisanya didominasi kerusakan ringan hingga berat,” kata Trenggono dalam keterangan pers KKP.
Ia menyampaikan tambak-tambak rusak berada di wilayah daratan dan juga pesisir dengan komoditas yang dikembangkan mencakup udang, bandeng, kakap, kerapu, lele, nila, mas, serta patin.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, saat meninjau lokasi budidaya perikanan terdampak banjir di Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Kamis (8/1), mengatakan tambak yang rusak dilaporkan ada sekitar 30 ribu hektare.
KKP mencatat tambak rusak imbas banjir besar disertai longsor beberapa waktu lalu menimpa hampir seluruh wilayah Aceh.
Tingkat kerusakan bervariasi bahkan sampai ada yang rata dengan tanah karena tergenang lumpur yang dibawa banjir.
Pewarta: Shofi AyudianaEditor : M Ifdhal
COPYRIGHT © ANTARA 2026