Jakarta (ANTARA) - Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI Prof. Dr. dr. Dominicus Husada, Sp.A Subsp.IPT mengatakan peredaran virus Nipah di Indonesia sampai saat ini masih terdeteksi pada kelelawar buah sebagai penular utama dan belum terdeteksi ada penularan di manusia.
“Penular utama sekali lagi adalah kelelawar buah (Pteropodidae) sebagai inang alami, memang aslinya dia yang berperan, negara kita termasuk yang punya kelelawar ini dan sudah ditemukan virusnya pada kelelawar, tapi pada orang memang belum,” kata Dominicus dalam webinar mengenai virus nipah yang diikuti secara daring, Kamis.
Dia mengatakan pada penelitian Uji Elisa yang dilakukan tahun 2023 di beberapa provinsi seperti di Medan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, dari 50 sampel liur kelelawar buah, sepertiganya memiliki antibodi nipah dan dua dari 50 sampel terdapat virus nipah.
Sementara penelitian pada hewan potong babi di Jakarta, Medan, Sumatera Utara dan Barat, dan Sulawesi Utara tidak ditemukan antibodi nipah.
Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga itu menjelaskan penularan virus nipah dari hewan kelelawar bisa melalui kencing, ludah hewan, atau ludah pada buah yang sudah terkontaminasi nipah atau daging mentah hewan yang terkena virus nipah.
Sementara penularan ke sesama manusia bisa dari nafas orang yang terinfeksi virus nipah, atau kontak cairan atau darah dengan orang yang terinfeksi.
Pewarta: Fitra AshariEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026