Denpasar (ANTARA) - Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Bali telah memulangkan belasan orang terlantar ke asalnya selama Januari 2026 ini.
“Dinsos telah memulangkan sebanyak 12 orang terlantar ke daerah asalnya hingga 26 Januari 2026, pemulangan dilakukan secara selektif sebagai upaya menekan angka orang terlantar di Bali,” kata Kepala Dinsos P3A Bali Anak Agung Sagung Mas Dwipayani.
Sagung Mas di Denpasar, Selasa, menyebut dari 12 orang tersebut, empat orang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT), tiga orang dari Jawa Barat, dua orang dari Jawa Timur, dan satu orang dari Bengkulu.
Fasilitasi pemulangan orang terlantar ini bisa dilakukan Pemprov Bali karena telah menjalin kerja sama melalui nota kesepahaman (MoU) dengan sejumlah provinsi untuk memfasilitasi pemulangan warga terlantar dari luar Bali.
"Kami sudah memiliki kerja sama dengan beberapa provinsi, pemulangan dilakukan melalui travel dan seluruh biayanya ditanggung oleh Pemprov Bali,” ujarnya.
Untuk setiap pemulangannya, Dinsos P3A Bali mengeluarkan dana sekitar Rp300 ribu untuk transportasi termasuk makan dan minum.
Tak ada uang saku tambahan yang diberikan pemerintah daerah, pemulangan orang terlantar juga dilakukan selektif, semua ini bertujuan untuk menekan kasus.
Sagung Mas menyampaikan pemulangan bersifat ketat, yaitu satu orang hanya bisa difasilitasi pemulangan maksimal satu kali dalam setahun.
Ini bertujuan untuk mencegah penyalahgunaan program, dinsos secara ketat mendata setiap orang yang dipulangkan.
“Banyak modus datang ke Bali dengan alasan berlibur, lalu mengaku kehabisan bekal dan meminta dipulangkan, itu hanya bisa difasilitasi satu kali dalam setahun,” ucapnya.
Jika seseorang mengaku tidak membawa KTP, Dinsos P3A Bali akan berkoordinasi dengan dukcapil untuk memastikan identitas dan riwayat pemulangannya.
“Kalau sudah pernah difasilitasi dalam tahun yang sama, tidak akan kami pulangkan lagi, kami punya datanya,” kata dia.
Pengetatan ini cukup berhasil menjadi pemicu turunnya angka pemulangan orang terlantar dari Bali ke luar provinsi, sebab sebelumnya informasi yang beredar dari mulut ke mulut pemulangan oleh dinsos sangat mudah.
Berdasarkan data Dinsos P3A Bali, jumlah pemulangan orang terlantar pada 2024 tercatat sebanyak 391 orang, jumlahnya turun sebanyak 65 orang.
“Angka tersebut menurun menjadi 326 orang pada 2025, penurunan ini karena kami benar-benar selektif yang sudah pernah dipulangkan dalam satu tahun tidak lagi difasilitasi,” ujarnya menegaskan.
Selain orang terlantar, Sagung Mas juga menangani pemulangan anak punk.
Selama tahun 2025, jumlah pemulangan anak punk turun seiring peran Satpol PP yang lebih dulu melakukan pembinaan sehingga menimbulkan efek jera.
Pemprov Bali juga memfasilitasi pemulangan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), dengan catatan telah menjalani perawatan hingga dinyatakan pulih.
Sepanjang 2025 pemulangan orang terlantar terbanyak berasal dari Pulau Jawa, kebanyakan mereka mengaku bekerja sebagai anak buah kapal di Pelabuhan Benoa atau sebagai tukang, namun tidak menerima upah sesuai janji pemberi kerja.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026