Denpasar (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mengusulkan pemerintah daerah agar meningkatkan produktivitas pertanian di tengah persoalan luas lahan panen padi yang menyempit.

“Kami akan berkoordinasi dengan pemda agar meningkatkan produktivitasnya, produksi itu kan perkalian dari luas panen dan produktivitas, tapi luas panen itu mungkin agak sulit di Bali untuk ditingkatkan,” kata Ketua Tim Statistik Pertanian BPS Bali Sapto Wintardi, Senin (2/2).

BPS Bali di Denpasar, mengungkapkan kondisi sepanjang 2025 menunjukkan produksi padi yang menurun.

Produksi padi dari Januari sampai Desember 2025 sebanyak 587,87 ribu ton, jumlah ini turun sebesar 47,61 ribu ton atau 7,49 persen dibandingkan dengan periode yg sama di tahun 2024.

Berdasarkan subround tiga atau periode September-Desember 2025 saja, produksi padi 199,31 ribu ton atau turun 6,99 persen setara 14,97 ribu ton padi dibandingkan subround tiga 2024.

“Kita lihat per subround, produksi padi hampir ketiga subround mengalami penurunan, sama dengan luas panen padi, produksi padi juga mengalami penurunan karena memang ini berkorelasi, subround satu juga turun 4,66 persen dan subround dua turun 9,90 persen,” ujarnya.

Begitu pula pada produksi beras yang merupakan konversi padi, dimana sepanjang 2025 produksi beras di Bali sebanyak 331,53 ribu ton, atau turun 26,65 ribu ton yaitu 7,49 persen dibandingkan sepanjang 2024.

Produksi beras di subround tiga saja yang sebanyak 112,40 ribu ton juga termasuk turun sebanyak 8,44 ribu ton dibanding subround tiga 2024.

BPS Bali melihat turunnya produksi padi berkaitan dengan menyempitnya luas panen Bali sepanjang 2025, namun mereka menyadari Bali tak lepas dari pembangunan infrastruktur pendukung pariwisata.

“Selama ini masalah di Bali itu semakin lama semakin sempit lahan, Bali itu ujung tombak dari sektor yang diunggulkan yaitu wisata, hampir setiap tahun terjadi alih fungsi lahan, dari tahun 2019 ke 2024 itu turunnya saja sekitar 6 ribu hektare, itu salah satu yang disinyalir menjadi penyebab produksi padi dan beras turun,” kata dia.

BPS Bali mencatat luas panen padi sepanjang 2025 seluas 96,44 ribu hektare, dimana luasan ini mengalami penurunan sebesar 7,09 persen dibandingkan tahun 2024.

“Kalau melihat per subround, jika kita bandingkan tahun 2025 dengan 2024, dari subround satu, dua, maupun tiga semuanya mengalami penurunan, dengan paling tinggi penurunan di subround dua (Mei-Agustus) yaitu 12,40 atau turun sebesar 5,35 ribu hektare,” kata dia.

Jika produktivitas pertanian tak didorong di tengah menyempitnya luas panen dan lahan baku sawah, BPS Bali memperkirakan penurunan produksi padi dan beras akan berlanjut pada awal 2026.

Berkaca dari kondisi 2025, badan statistik memperkirakan potensi penurunan produksi padi pada Januari dan Februari sebesar 12,05 ribu ton atau sebesar 17,48 persen dibanding bulan yang sama tahun 2025.

Sama halnya dengan dengan produksi padi, produksi beras juga diperkirakan mengalami penurunan yang sama, dengan yang tertinggi ada di subround dua sebesar 13,85 ribu ton.



Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026