Gianyar, Bali (ANTARA) - Badan Narkotika Nasional (BNN) menggandeng Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Gianyar, Bali, untuk mengedukasi anak usia dini soal bahaya narkoba.
"Edukasi dimulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) sebagai fondasi untuk pencegahan penyalahgunaan narkotika," kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gianyar I Wayan Mawa di Gianyar, Bali, Selasa.
Agenda edukasi itu sejalan dengan program prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan program BNN RI tentang Aksi Nasional Anti Narkotika dan Ketahanan Bangsa Dimulai dari Anak (Ananda) 2026.
Ia menambahkan di Kabupaten Gianyar program Ananda telah dimulai sejak Januari 2026 dan akan terus berlanjut menyasar seluruh satuan pendidikan sebagai upaya penguatan karakter.
Mawa berharap dengan edukasi akan terbentuk karakter anak-anak dan generasi muda yang kuat untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Edukasi bahaya narkoba juga dikombinasikan dengan pentingnya menerapkan gaya hidup sehat kepada anak-anak usia dini.
Menurut dia, pentingnya sosialisasi bahaya narkoba dilakukan sejak dini karena barang haram itu saat ini menyentuh lintas generasi termasuk para pelajar.
Berdasarkan catatan BNN, pelajar termasuk mereka dalam kelompok usia remaja memiliki potensi besar dalam penyalahgunaan narkoba.
Di sisi lain, pihaknya juga sudah melaksanakan pendidikan bermutu yang dapat dirasakan semua orang melalui penguatan pendidikan karakter, dan menyosialisasikan program wajib belajar 13 tahun.
Selain itu, peningkatan kualifikasi kompetensi, kesejahteraan guru, pengembangan talenta dan prestasi, pemenuhan dan perbaikan sarana prasarana pendidikan, dan pembangunan kebahasaan dan kesastraan.
Sementara itu, berdasarkan laporan hasil pengukuran prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia pada 2023 yang dilaksanakan BNN, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat prevalensi penyalahgunaan narkoba diperkirakan mencapai 1,73 persen dari jumlah penduduk estimasi usia 15 hingga 64 tahun terpapar narkoba atau sekitar 3,3 juta jiwa.
Dari 3,3 juta jiwa itu, diperkirakan sekitar 8,3 persen masih berstatus sekolah.
Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta WigunaEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026