Denpasar (ANTARA) - Perempuan Bali dalam Pilkada Serentak 2024 lalu banyak disoroti karena keterlibatannya mengawal demokrasi.

Penyelenggara di TPS 08 Banjar Kertasari, Denpasar, contohnya, dimana seluruh anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) terdiri dari perempuan.

Ni Putu Dian Puspita Dewi selaku ketua KPPS di Denpasar, Kamis, bahkan mengatakan bahwa mereka semua adalah generasi Z atau perempuan muda Bali yang berusia 17-25 tahun.

Dian bercerita saat itu ia tertarik diajak membentuk TPS penyelenggara perempuan sebab sudah berpengalaman menjadi KPPS saat Pilpres 2024 dan bertemu perempuan sebaya lainnya dirasa akan mempermudah pekerjaan.

“Ini konsep yang baru bagi saya, keseluruhan anggota KPPS perempuan dan gen Z jadi usia tidak terlalu jauh dengan saya, kami punya komunikasi dan pemahaman yang sama untuk memudahkan bekerja saat pilkada berlangsung,” kata dia.

Perempuan usia 24 tahun itu mengatakan seluruh proses mengawal Pilkada Serentak 2024 berhasil mereka selesaikan dengan lancar, padahal beberapa dari mereka bahkan masih termasuk pemilih pemula.

Bergabung menjadi ad hoc KPU selama pilkada juga menumbuhkan ketertarikan mereka terhadap pengetahuan politik sejak dini, walau hingga saat ini para gen Z tersebut belum tertarik untuk terjun politik praktis.

Dian bercerita kesempatan di KPPS Pilkada Serentak 2024 lalu justru dimanfaatkan untuk kampanye peduli lingkungan, dimana para perempuan Bali itu membagikan ecoenzym buatan mereka kepada pemilik hak suara.

Menurutnya sebagai generasi muda, ini adalah strategi baru mendorong pengelolaan sampah di masyarakat sambil memanfaatkan agenda pilkada.

Sekretaris Banjar Kertasari Ketut Udi Prayudi yang sekaligus Mantan Komisioner KPU Bali menambahkan bahwa berdasarkan evaluasi, proses pilkada di TPS penyelenggara perempuan justru berjalan lebih baik dibanding TPS lainnya.

“Suasana TPS penuh keceriaan karena seru remaja perempuan dengan hiasan ala generasi Z, selama pemilihan juga kondusif, pengisian dokumen lancar rapi, dan potensi kecurangan tidak ada karena perempuan cenderung idealis dan fokus menyelesaikan pekerjaan, mereka juga tidak se-nekat laki-laki,” ujarnya.

Namun disadari bahwa saat awal hendak membentuk TPS penyelenggara perempuan generasi Z, sempat ada tantangan seperti sulitnya kepercayaan dari orang tua dan meyakinkan perempuan bisa.

Menempatkan perempuan generasi muda pada kegiatan-kegiatan kepemiluan juga bertujuan untuk mengenalkan mereka soal proses demokrasi, termasuk kepada masyarakat umum agar mereka menyadari potensi-potensi perempuan Bali.

“Masyarakat kita jadi terbuka, tahu perempuan itu hebat, dan ini juga selanjutnya bisa dilakukan di daerah-daerah lain,” kata Udi Prayudi.



Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Widodo Suyamto Jusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2026