Banda Aceh (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) merelokasi tulang belulang dan sisa-sisa organ gajah sumatra (elephas maximus sumatranus) yang ditemukan mati terseret banjir di kawasan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh.
Kepala BKSDA Aceh Ujang Wisnu Barata di Banda Aceh, Kamis, mengatakan relokasi tulang belulang dan sisa-sisa organ satwa dilindungi tersebut guna mencegah hal yang tidak diinginkan.
"Kami akan relokasi tulang belulang dan sisa-sisa organ gajah yang ditemukan mati akibat banjir akhir November 2025. Bangkai gajah tersebut ditemukan di kawasan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya," katanya.
Sebelumnya, kata Ujang Wisnu Barata, BKSDA Aceh menerima informasi dari Keuchik (kepala desa) Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, terkait penemuan gajah mati terbawa banjir, pada 28 November 2025.
"Bangkai gajah tersebut ditemukan di sekitar pemukiman penduduk di Dusun Pante Geulima, Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya," kata Ujang Wisnu Barata.
Menindaklanjuti informasi tersebut, BKSDA Aceh berkoordinasi dengan Satuan Reserse Kriminal Polres Pidie Jaya. Selanjutnya, mengecek lokasi keesokan harinya Akses dan medan ke lokasi gajah mati tersebut sulit dilalui karena banyaknya material banjir seperti kayu.
"BKSDA mengerahkan tiga personel, termasuk dokter hewan dibantu empat personel Polres Pidie Jaya mencapai lokasi bangkai gajah pada hari berikutnya," kata Ujang Wisnu Barata.
Hasil pemeriksaan bangkai, kata dia, tidak ditemukan luka di tubuh gajah. Usia bangkai saat ditemui sekitar empat hari. Jenis kelamin gajah jantan dan umur diperkirakan 10 tahun dengan sepasang gading patah.
Penyebab kematian, kata dia, terseret arus banjir bandang. Bangkai ditemukan tertimbun lumpur dan puing-puing kayu. Areal di sekitar lokasi masih terendam banjir dan akses ke lokasi sulit dilalui.
"Saat itu, tidak ada alat berat yang tersedia, sehingga penanganan darurat awal pada bangkai dengan menyeterilkan lokasi. Serta menguburkan secara darurat dengan menutup bangkai gajah lumpur dan serpihan kayu," katanya.
Ujang Wisnu Barata menyebutkan pihaknya juga memantau secara berkala lokasi penguburan darurat bangkai gajah tersebut. Dan pada 10 Desember 2025, tim BKSDA dan Polres Pidie Jaya mendatangi lokasi penguburan darurat.
Kondisi bangkai saat itu, kata dia, sudah mulai pecah pembusukan. Petugas juga menambah timbunan secara manual bangkai gajah tersebut guna mengurangi bau. Apalagi di sekitar lokasi juga berasal dari bangkai hewan ternak yang terdampak banjir.
"Saat itu, petugas juga mengamankan sepasang gading dengan ukuran kiri sepanjang 38 centimeter dan kanan sepanjang 36 centimeter. Diameter pangkal dan ujung masing-masing gading 18 centimeter dan 17 centimeter," katanya.
Tim BKSDA dan Polres Pidie Jaya, kata dia, kembali mendatangi lokasi pada 6 Januari 2026. Kondisi bangkai sudah mulai terurai dan menyisakan tulang belulang dan tengkorak serta bau busuk sudah mulai menghilang.
Namun, kata Ujung Wisnu Barata, ada indikasi lokasi penguburan dibongkar karena sempat berkembang isu adanya gading. Kemudian, menutup lokasi penguburan dengan terpal dan menambah timbunan tanah.
"Selanjutnya, terhadap tulang belulang dan sisa-sisa organ gajah yang masih tertinggal akan dibawa ke Pusat Latihan Gajah Saree di Kabupaten Aceh Besar guna penguburan permanen satwa dilindungi tersebut," kata Ujang Wisnu Barata.
Pewarta: M.Haris Setiady AgusEditor : M Ifdhal
COPYRIGHT © ANTARA 2026