Aceh Timur (ANTARA) - Terjangan banjir besar yang melanda wilayah Idi, Kabupaten Aceh Timur, pada 26 November 2025, menyisakan duka mendalam bagi Fatimah. 

Ibu lima anak ini kini terpaksa mengungsi dan bertahan hidup di bawah Jembatan Idi setelah rumah yang telah ditempatinya sejak 1976 hanyut dibawa derasnya arus banjir.

Sebelum bencana terjadi, Fatimah bersama keluarganya tinggal di atas tanah milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Timur yang berada di tepi sungai, tepat di bawah Jembatan Idi. 

Lokasi tersebut telah menjadi tempat tinggalnya selama hampir lima dekade tanpa pernah mengalami bencana banjir besar.

Selama puluhan tahun menetap di kawasan tersebut, Fatimah mengaku banjir yang terjadi sebelumnya hanya berupa luapan kecil akibat pasang laut. Air sungai biasanya hanya naik sedikit dan tidak pernah sampai merusak rumah.

Baca: BKPRMI: 24 masjid di Aceh Timur rusak berat akibat banjir

"Dulu paling air naik sedikit, cuma semata kaki. Tidak pernah sampai menghanyutkan rumah," ujar Fatimah di Aceh Timur, Senin sembari mengenang peristiwa tersebut.

Namun, banjir pada 26 November 2025, datang dengan kekuatan yang tak pernah ia bayangkan. Derasnya arus sungai secara tiba-tiba merobohkan dan menghanyutkan rumah sederhana yang selama ini menjadi tempat berlindung keluarganya. Seluruh harta benda pun ikut hilang terbawa arus.

Kini, Fatimah hidup bersama suaminya yang telah lanjut usia dan bekerja sebagai buruh panglong kayu dengan penghasilan tidak menentu. 

Dari lima anaknya, dua orang masih menjadi tanggungan keluarga. Satu anak masih duduk di bangku kelas lima madrasah ibtidaiyah (MIN), sementara satu lainnya masih bersekolah di kelas dua SMA.

Pascabencana, Fatimah dan keluarganya tidak memiliki tempat tinggal lain. Ia kini bertahan hidup di lokasi yang sama, di bawah Jembatan Idi, beralaskan tenda darurat yang dibangunnya dari hasil bantuan para dermawan. Bantuan tersebut dikumpulkan secara swadaya hingga mencapai Rp1 juta.

Baca: BPBD: Rumah rusak akibat banjir di Aceh Timur mencapai 17.120 unit



Pewarta: Hayaturrahmah
Editor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA 2026