Denpasar (ANTARA) - Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Provinsi Bali Risca Christina mengatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperluas untuk anak jalanan akan menjadi tantangan baru karena keberadaan mereka tersebar dan memerlukan kepastian lokasi satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) terdekat.
“Betul (jadi) tantangan baru. Kekhawatiran kami anak jalanan itu ada yang bergerombol di sini, ada sebagian di tempat lain, jadi kami pikirkan kembali agar mereka bisa bertemu di satu tempat,” katanya di Denpasar, Jumat.
Menurut dia, apabila berada dalam satu tempat, maka akan memudahkan pengawasan serta memastikan penyaluran tepat sasaran.
Sebelumnya, BGN Pusat menyampaikan penduduk lanjut usia, pemulung, anak jalanan, hingga seluruh masyarakat kategori miskin akan menerima MBG sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Namun, belum ada arahan lebih lanjut sehingga BGN Bali juga belum mendata, masih menyusun strategi dan berkoordinasi dengan pusat agar ketika diimplementasikan sudah siap.
Sementara itu, untuk pemberian MBG kepada disabilitas, BGN Bali bekerja sama dengan sekolah luar biasa (SLB) untuk pemberian paket makanan kepada siswa disabilitas.
“BGN Bali sedang melakukan koordinasi juga dan mencari tahu data riil, mungkin kami akan berkolaborasi dengan Dinas Sosial, karena data mereka lengkap,” imbuh Risca.
Selain tantangan dalam penyalurannya, menurut Koordinator BGN Bali itu, kebutuhan gizi disabilitas dan anak jalanan dengan MBG bagi siswa akan berbeda dan perlu menjadi perhatian.
“Kalau disabilitas juga tidak boleh sembarangan, mungkin nanti di dalam satu SPPG ada ahli gizi bisa dibantu untuk melakukan pertimbangan atau penghitungan angka kecukupan gizi mereka karena ada beberapa disabilitas tidak boleh kelebihan tepung, garam dan lain sebagainya,” ujarnya.
Sementara itu, pihaknya menyasar 507 ribu penerima harian makanan bergizi, baik siswa maupun ibu hamil, ibu menyusui, dan balita tahun ini.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026