Denpasar (ANTARA) -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali menekankan pentingnya industri keuangan mengadopsi filosofi masyarakat di Pulau Dewata yaitu Tri Hita Karana (THK) untuk memastikan perekonomian berorientasi pada keberlanjutan.

“Industri keuangan memegang peranan dalam pendanaan hijau, energi terbarukan, usaha yang ramah lingkungan demi menjaga keselarasan alam,” kata Kepala OJK Provinsi Bali Kristrianti Puji Rahayu di Denpasar, Bali, Jumat.

Adapun THK adalah kearifan lokal masyarakat Bali yang bermakna tiga hubungan harmonis manusia dengan Tuhan (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan) dan manusia dengan lingkungan (Palemahan).

Konsep itu, kata dia, juga sejalan dalam pelaksanaan regulator tersebut yaitu memastikan seluruh peraturan yang berintegritas, menjaga keharmonisan dengan para pemangku kepentingan, dan memberikan akses permodalan kepada pelaku usaha yang berorientasi pada pelestarian lingkungan.

Dalam Dharma Wacana serangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-14 OJK, pihaknya juga menghadirkan akademisi Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Dr I Made Adi Surya Pradnya yang mengangkat nilai-nilai Hindu sebagai salah satu sumber inspirasi untuk memperkuat pondasi ekonomi nasional dan industri keuangan.

Dalam paparannya, upacara keagamaan yang hadir sepanjang tahun di Bali juga menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan di Pulau Dewata, mulai dari produksi petani, distribusi hingga pengomposan sampah organik dan daur ulang sampah plastik.

“Model itu mencerminkan ekosistem ekonomi yang lestari, sesuai prinsip keberlanjutan yang diusung industri keuangan modern,” ucapnya.

Sementara itu berdasarkan data regulator lembaga jasa keuangan itu, penyaluran kredit di Bali hingga Juli 2025 mencapai Rp116,26 triliun atau tumbuh 6,50 persen secara tahunan.

Kualitas kredit perbankan di Bali tetap terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) sebesar 3,06 persen, lebih rendah dibandingkan posisi sama tahun sebelumnya sebesar 3,32 persen.

Sedangkan, penghimpunan dana pihak ketiga mencapai Rp202,85 triliun atau tumbuh 9,42 persen secara tahunan.

Di sisi lain, OJK juga mencatat salah satu contoh partisipasi lembaga jasa keuangan dalam mendukung keberlanjutan khususnya industri pasar modal.

Total nilai transaksi bursa karbon di pasar modal nasional sejak 26 September 2023 hingga 7 November 2025 mencapai Rp78,50 miliar.

Ada pun total unit karbon yang diperdagangkan oleh 138 perusahaan mencapai 2,6 juta ton setara karbondioksida.



Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor : Widodo Suyamto Jusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2026