Jakarta (ANTARA) - PT Bank Syariah Indonesia Tbk memfasilitasi layanan penukaran uang tidak layak edar (UTLE) atau uang rusak milik penyintas banjir di Aceh, sebagai upaya mengembalikan hak finansial masyarakat dan memberikan rasa aman di tengah masa sulit.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu, mengungkapkan rasa empati yang mendalam atas musibah ini.
Ia mencermati fenomena banyak warga yang berupaya menyelamatkan sisa-sisa harta mereka, termasuk uang tunai yang rusak terkena air dan lumpur.
“Kami menyaksikan langsung bagaimana masyarakat berjuang mengeringkan lembaran uang yang tertimbun lumpur,” ujarnya.
Sebagai bentuk layanan sepenuh hati, imbuh Anggoro, maka perseroan membuka fasilitas penukaran uang rusak di seluruh outlet BSI Aceh sehingga uang tersebut dapat kembali menjadi saldo tabungan atau digunakan masyarakat untuk bertransaksi.
Perseroan memastikan, proses penukaran uang rusak dilakukan secara transparan sesuai regulasi Bank Indonesia, mencakup verifikasi fisik dan pencatatan identitas.
Anggoro juga menghimbau agar nasabah bisa menggunakan layanan e-channel untuk mengoptimalkan kebutuhan transaksi yang memang bisa dilakukan tanpa harus ke kantor cabang. Hal ini dilakukan agar menghemat waktu dan transaksi nasabah di kantor cabang.
Beberapa layanan e-channel yang dapat diakses nasabah seperti BSI Call 14040, mobile banking BYOND, BSI ATM, BSI Agen, BSI Net Banking, BEWIZE, maupun BSI Cash Management.
Pasca-musibah banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, BSI memastikan seluruh layanan perbankan telah kembali beroperasi normal di mana sebanyak 145 outlet telah dipulihkan.
Dalam kurun waktu dua pekan, perseroan melakukan akselerasi pemulihan yang masif mulai dari pembersihan sisa lumpur di kantor cabang, pengaktifan jaringan telekomunikasi, hingga penyaluran bantuan logistik lebih dari 140 ton dan pembangunan hunian sementara di bawah koordinasi Danantara Indonesia.
Pewarta: Rizka KhaerunnisaEditor : M Ifdhal
COPYRIGHT © ANTARA 2026