Aceh Timur (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Timur mencatat sepanjang 59.365 meter jaringan irigasi di daerah itu rusak akibat bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025.
"Kerusakan tersebut terdiri dari irigasi yang jebol akibat banjir, tanah longsor serta sedimentasi lumpur yang menutup saluran air," kata Kepala BPBD Aceh Timur Afifullah di Aceh Timur, Selasa.
Ia mengatakan jaringan irigasi pertanian yang rusak tersebut tersebar di sejumlah kecamatan. Rusaknya jaringan irigasi itu mengancam keberlangsungan sektor pertanian dan ketahanan pangan masyarakat.
"Irigasi yang rusak ini tersebar di sejumlah kecamatan terdampak banjir. Banyak saluran yang jebol dan tidak lagi berfungsi normal untuk mengaliri sawah warga," kata Afifullah.
Banjir dengan ketinggian air mencapai satu hingga 10 meter di sejumlah wilayah, kata dia, menyebabkan tekanan besar pada tanggul dan dinding irigasi. Arus air yang deras menggerus struktur irigasi yang sudah berusia tua, sehingga banyak titik tidak mampu menahan beban air.
Afifullah mengatakan perbaikan irigasi menjadi prioritas utama pascabanjir, mengingat keberadaannya vital bagi perekonomian masyarakat Aceh Timur yang sebagian besar bermata pencaharian di sektor pertanian.
Baca: Ribuan hektare lahan perkebunan di Aceh Timur rusak akibat banjir
Namun, kata dia, upaya perbaikan irigasi membutuhkan dukungan anggaran besar serta sinergi lintas instansi, baik dari pemerintah daerah, provinsi, hingga pemerintah pusat.
"Kami mendorong agar perbaikan irigasi ini bisa segera ditangani secara bertahap. Jika tidak segera diperbaiki, dampaknya bisa berkepanjangan, terutama terhadap musim tanam dan penghasilan petani," kata Afifullah.
Saat ini, kata Afifullah, pihaknya bersama instansi terkait masih mendata lanjutan tingkat kerusakan di setiap titik irigasi. Data tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam pengusulan bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
"Data ini masih bersifat sementara dan bisa berubah. Yang jelas, kerusakan irigasi akibat banjir kali ini cukup signifikan dan membutuhkan penanganan serius," kata Afifullah.
Selain irigasi, Afifullah mengatakan kerusakan juga dialami lahan pertanian akibat banjir. Data sementara tercatat seluas 10.902 hektare lahan pertanian terdampak banjir, baik terendam air dalam waktu lama maupun kehilangan suplai air akibat saluran irigasi yang rusak.
"Sebagian besar petani saat ini tidak bisa menanam karena irigasi putus. Ada yang sawahnya terendam lumpur, ada juga yang kekurangan air karena saluran jebol," kata Afifullah.
Baca: Bupati Aceh Timur temukan tumpukan kayu di wilayah bencana
Pewarta: HayaturrahmahEditor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA 2026