Banda Aceh (ANTARA) - Pelajar SMA Negeri 2 Pidie Jaya, Provinsi Aceh, mengikuti proses belajar mengajar di tenda karena sekolah mereka hingga kini masih tertimbun lumpur.
Kepala SMA Negeri 2 Meureudu M Diah di Pidie Jaya, Senin, mengatakan kondisi sekolah hingga kini belum dapat digunakan karena ketinggian lumpur hingga dua meter.
"Mulai hari ini anak-anak bersekolah. Proses belajar mengajar berlangsung di tenda, termasuk aktivitas administrasi sekolah, juga di tenda dengan kondisi seadanya," kata M Diah.
Para siswa berdatangan dengan pakaian biasa ke sekolah. Hanya beberapa dari mereka bersekolah mengenakan seragam putih abu-abu. Hampir semua mereka datang tanpa membawa peralatan dan perlengkapan belajar.
Sebelum memulai proses belajar mengajar, pelajar mengikuti upacara dengan pembinaan Wakapolres Pidie Jaya Kompol Iswahyudi. Upacara juga ikuti para guru dan tenaga pendidik lainnya.
SMA Negeri 2 Meureudu dengan peserta didik sebanyak 271 orang dan tenaga pendidik sebanyak 55 orang. Hampir semua peserta didik dan tenaga pendidik terdampak langsung banjir bandang.
M Diah mengatakan pihaknya tidak memaksakan anak-anak bersekolah karena mereka juga menjadi korban bencana banjir bandang yang melanda Aceh pada akhir November 2025.
"Kami juga sudah menyampaikan kepada pelajar bahwa proses belajar mengajar mulai 5 Januari 2026. Mungkin, tidak semua anak-anak mengetahuinya karena alat komunikasi mereka juga rusak akibat banjir," katanya.
Begitu juga dengan seragam, kata dia, pihak sekolah juga membebaskan mereka mengenakan pakaian selain seragam sekolah. Apalagi sebagian besar dari mereka rumahnya terdampak banjir seperti ada yang hilang dan tertimbun lumpur.
"Hampir sebagian besar anak-anak kami tidak ada lagi seragam serta peralatan dan perlengkapan belajar. Semua hilang dan tidak dapat digunakan karena banjir," katanya.
Sementara itu, Nasyila Fonna, siswa Kelas 10A SMA Negeri 2 Meureudu, mengatakan dirinya bersekolah setelah menerima pemberitahuan dari guru. Dirinya bersekolah dengan pakaian biasa tanpa membawa peralatan dan perlengkapan belajar.
"Seragam maupun alat belajar semuanya tidak bisa digunakan lagi akibat banjir. Saya berharap aktivitas di sekolah bisa segera kembali berjalan normal seperti biasa karena tidak ingin tertinggal dalam mengikuti pembelajaran," kata Nasyila Fonna.
Pewarta: M.Haris Setiady AgusEditor : M Ifdhal
COPYRIGHT © ANTARA 2026