Banda Aceh (ANTARA) - Setelah Jembatan Bailey Teupin Mane viral diduga sejumlah baut jembatan itu dilepas oleh orang tidak kikenal (OTK) beberapa hari lalu. anggota Dewan Perwakilan Daerah RI Dapil Aceh Sudirman mengecek jembatan tersebut.
Kedatangan anggota DPD RI itu tidak sendiri, komedian yang akrab disapa Haji Uma dengan membawa sejumlah wartawan ke jembatan, pada Kamis (2/1).
Saat melihat baut pada jembatan tersebut, sambil divideokan Haji Uma menjelaskan berbagai dugaan, diantaranya, baut jembatan tersebut pendek dan menduga tidak dilepaskan, melainkan terlepas oleh guncangan jembatan tersebut.
Alhasil, video Haji Uma menyebar di berbagai akun media sosial. Namun disayangkan, dimanfaatkan penggiat medsos berbagai asumsi melintirkan, terkesan disampaikan Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Maruli salah alias tidak benar.
Merespon hal itu, dalam keterangannya yang diterima Antara, Minggu (4/1), Babinsa Koramil 05/Juli, Kodim 0111/ Bireuen. Serma Hasanuddin yang bertugas sebagai Babinsa di Desa Teupin Mane kala itu. Ia menyayangkan inisiatif Anggota DPD itu hadir tanpa koordinasi dengan perangkat desa.
Serma Hasanuddin mengaku tak mengetahui kedatangan Haji Uma untuk mengecek jembatan. Bahkan mengetahuinya tanpa sengaja melihat ada sejumlah orang di jembatan, sehingga didatanginya.
“Awalnya saya tidak tahu ada anggota DPD RI, Haji Uma, ke lokasi mengecek Jembatan Bailey Teupin Mane. Kebetulan setiap sore saya ngopi di warkop sekitar jembatan. Melihat ada sejumlah orang di lokasi, saya pun menghampiri, terlihat ada Haji Uma sedang mengecek jembatan,” ujarnya.
Serma Hasanuddin menyebutkan, sesampai di Lokasi, Haji Uma bertanya siapa dirinya. "Saya Babinsa disini, ada apa Pak,” ujarnya.
Haji Uma kemudian menanyakan, sebagai Babinsa, bagaimana bisa kejadian di jembatan ini, sedangkan jembatan ini dijaga 24 jam.
“Tidak ada penjagaan pak, setelah kejadian baru dijaga, itupun patroli dua jam sekali,” terang Babinsa.
Haji Uma menanyakan kembali tentang kendaraan lalu lalang melintas, Ia menyebutkan, bahwa kendaraan melintas muatnya satu, katanya.
Serma Hasanuddin menjelaskan, kendaraan yang melintas di jembatan tidak ada masalah, mereka lewat seperti biasa sendiri, begitupun antrian yang silih bergantian, artinya kondisi mulai berangsur normal.
Selanjutnya, Haji Uma mengajak Babinsa dan diikuti sejumlah wartawan, untuk ditunjukan bagian jembatan yang more atau baut yang dibuka.
“Saya tunjukan beberapa komponen yang dibuka dan yang sudah diganti, termasuk beberapa Bendera Merah Putih yang terpasang di jembatan tersebut juga di copot dan ada yang dipotong oleh orang tidak dikenal itu (OTK),” katanya.
“Karena kejadian itu hampir bersamaan, jumlah bendera merah putih yang kita pasang di jembatan ada sekitar tiga puluh empat bendera, tetapi yang dicopot sekitar ada sepuluh,” sambungnya.
Selanjutnya, Serma Hasanuddin mengajak Haji Uma dan rombongan ke warung kopi yang ada di sekitar depan ujung jembatan.
Pada saat di warung kopi, Haji Uma kembali bertanya kepadanya, sebagai Babinsa, apakah yakin tidak mengetahui orang yang mencuri atau merusak. Serma Hasanuddin menjawab penuh keyakinan. Apalagi dia yang membuat laporan tersebut.
"Iya betul laporan dasarnya dari saya. Saya Babinsa disini, walaupun laporan melalui atasan," tegasnya.
Babinsa itu menjelaskan, bahwa berkaitan dengan kejadian ini, bukan dirinya yang melihat pertama, tetapi mendapatkan laporan dari seorang ketua pemuda setempat.
Kebetulan keberadaanya saat itu di Kota Bireuen, lalu dia melaporkan kepada piket Koramil, kemudian piket bersama ketua pemuda ke lokasi.
“Sesampai piket dan ketua pemuda di jembatan, melihat dan menyaksikan banyak mure atau baut yang sudah terbuka. Jadi, malam itu, Ketua Pemuda dan piket Koramil itu ada juga memasangkan kembali sejumlah baut walaupun dalam gelap,” terangnya.
Lalu, sekitar pukul 07.00 WIB, dirinya mendatangi lokasi dan mendokumentasikan sejumlah titik baut yang dilepaskan dari jembatan, termasuk membuat laporan.
Serma Hasanuddin membuat berita himbauan kepada Grup Desa Teupin Mane dan Grup BKM Masjid Baitulhuda, agar jangan terulang kembali.
Selain itu, Serma Hasanuddin menyebutkan, Haji Uma mengajak saya beserta beberapa rombongan wartawan balik ke jembatan. Di jembatan, Haji Uma diwawancarai oleh sejumlah wartawan, begitupun dirinya turut diwawancarai.
“Nah, hasil wawancara Haji Uma itu saya lihat di medsos Facebook dan berita media online dan TV, Sedangkan hasil wawancara saya itu tidak ada, bisa saja tidak dipostingkan, mengapa,” ungkapnya.
Selain itu, lanjut Babinsa, saat pekerjaan pembangunan jembatan, secara otomatis dijaga, baik TNI, Polisi banyak disitu.
Tetapi, setelah pembangunan jembatan selesai, dan peresmian boleh digunakan, itu tidak ada lagi penjagaan, karena arus lalu lintas sudah berangsur normal.
“Arus lalu lintas Bireuen – Takengon, jumlah kendaraan yang lewat tidak sama seperti jalan Medan - Banda Aceh seperti di Kuta Blang. Jadi mungkin Haji Uma ini berasumsi dan mengatakan bahwa ada penjagaan siang dan malam. Mungkin dia dengar di media sosial, bukan melihat fakta di lapangan,” tegasnya.
Ia juga menyebutkan, bahwa masyarakat sangat senang, justru warga berterima kasih kepada semua pasukan TNI Zipur yang membangun bekerja siang dan malam.
“Sampai ada statemen Ibu-ibu warga setempat mengungkapkan. Untung ada Tentara-tentara itu yang membangun jembatan, kalau tidak kita bagaimana mau lewat kesana-kemari, kan terisolir kita disini,” ujarnya menirukan ungkapan warga.
Serma Hasanuddin menilai, dugaan baut-baut itu sengaja dibuka, tidak dibuang, dan diletakan di atas badan jalan jembatan, mungkin asumsi mereka, pada saat kendaraan berat lewat itu jatuh.
“Begitu jembatan tumbang atau rusak, jadi kalau rusak, tentara yang membangun ini agar citranya jelek, seolah-olah kerjanya tidak bagus. Kalau cuman diganggu, kan mure-mure atau baut itu pasti dibuang,” ujarnya.
Babinsa menyayangkan, seharusnya saat kehadiran Haji Uma beserta rombongan mengecek jembatan tersebut seharusnya diinformasikan terlebih dahulu.
“Seharusnya hadirkan baik yang membangun orang Zipur yang paham, dari Koramil dengan Polsek hadir, beserta Tokoh masyarakat juga hadirkan. Baru kita nanti disitu sama-sama menyampaikan berita apa adanya,” imbuhnya.
“Kalau dia tujuan datangnya untuk kebaikan. Tapi kalau datangnya secara diam-diam bawa media, yang masing-masing mengambil dokumentasi. Saya menilai, dengan kehadiran saya, tiba-tiba di situ, mereka merasa risih, tidak sesuai dengan harapannya," kata
"Dia tidak bebas membuat berita. Bahkan lebih aneh lagi, mengapa saya sudah diwawancarai, tetapi hasilnya tidak terbit beritakan di media,” pungkas Serma Hasanuddin.
Pewarta: RedaksiEditor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA 2026