Aceh Tamiang (ANTARA) - Proyek pembangunan 600 unit rumah hunian sementara (Huntara) bagi korban banjir yang dikerjakan PT Danantara (Persero) di Desa Simpang Empat Upah, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang banyak menyerap tenaga kerja lokal.
Dava dan Riki adalah salah satunya. Mereka berdua berstatus mahasiswa aktif salah satu perguruan tinggi di Kota Langsa, Aceh. Sudah satu pekan mereka bergabung dengan tim pekerja konstruksi BUMN karya.
"Senang bisa diterima kerja di sini. Ini hari ketujuh kami kerja, Alhamdulillah gaji lancar dapat jatah makan lagi," kata warga Desa Paya Bedi, Aceh Tamiang, Deva, di lokasi Huntara. Minggu (4/1).
Awalnya, Deva dan Riki mengetahui ada lowongan kerja di Huntara dari status history WhatsApp temannya. Lalu, mereka berinisiatif datang ke lokasi bertemu biro perwakilan perusahaan sesuai brosur perekrutan tenaga kerja. Di sana, setiap perusahaan pelaksana proyek memiliki kru dan SOP masing-masing.
"Ada kawan ngajak, sebelumnya kami ada enam orang warga satu desa, ke enamnya langsung diterima. Ternyata banyak juga yang kerja di sini dari warga Aceh Tamiang," ujarnya.
Deva dan lima rekannya bekerja sebagai pembantu tukang (kernet) dengan upah Rp150 per hari, bekerja mulai pukul 07.30 hingga pukul 17.00 WIB. Jika lembur, dari pukul 20.00 WIB hingga 23.00 WIB bisa mendapatkan gaji tambahan.
"Kalau nggak lembur Rp150 ribu per hari, kalau lembur shift malam ada yang Rp250 sampai Rp300 ribu, bervariasi karena beda perusahaan. Gaji dibayar satu minggu sekali," katanya.
Dirinya mengaku belum memiliki pengalaman kerja di bidang bangunan. Selain mengisi waktu libur kuliah, ternyata tujuan Deva dan Rizki mulia. Tidak semata mencari uang jajan, tapi mereka ingin berkontribusi bekerja di proyek Huntara.
Terutama, untuk membantu korban pengungsi banjir yang saat ini tinggal di tenda-tanda supaya cepat mendapatkan rumah.
"Kami korban banjir juga tapi tidak mengungsi. Ya, paling tidak sebagai warga lokal kami ingin Huntara ini cepat selesai dibangun sehingga pengungsi yang kehilangan tempat tinggal bisa segera direlokasi kemari. Itu salah satu alasan kami mahasiswa harus ikut bersama membangun Huntara ini," katanya.
"Kita berharap kepada pemerintah daerah tidak ada nepotisme dalam pembagian bangunan Huntara nanti. Harus diutamakan warga setempat yang betul-betul mengungsi, jangan untuk korban banjir yang masih punya rumah," sambung Dava.
Sebelumnya, salah seorang penyintas banjir Aceh Tamiang, Rizki sudah masuk melihat kondisi Huntara. Dia juga merupakan calon penerima Huntara yang berlokasi strategis di Jalinsum Medan-Banda Aceh.
“Rumah baru kami nanti di sebelah masjid, masya Allah," katanya.
Lokasi Huntara memang bertetangga dengan Masjid Darussalam di Desa Simpang Empat Upah, Kecamatan Karang Baru. Rizki korban banjir yang ikut mengungsi tidur di tenda di daerah bilangan Karang Baru.
Baginya, hunian yang dibangun PT Danantara membuka asa untuk kehidupan Aceh Tamiang lebih baik lagi, usai 37 hari lalu diterjang banjir bandang yang membawa kayu dan lumpur.
Rumahnya, telah ditelan lumpur, dan tidak ada harapan untuk ditempatkan kembali. Bahkan disana juga ada rumah yang hanyut, roboh dan tidak berbentuk lagi.
Sebagai informasi, pada 1 Januari 2026 lalu Presiden Prabowo telah meninjau langsung rumah Huntara di Aceh Tamiang untuk penyintas korban banjir, bagus dan sangat humanis.
"600 rumah dalam delapan hari, bukti Danantara serius dan selalu bersama untuk masyarakat Indonesia," ujar Prabowo di hadapan CEO Danantara Rosan dan COO Danantara Dony Oskaria.
Bahkan, Presiden Prabowo juga memberi apresiasi kepada direktur BUMN Karya, yang bekerja dengan hati tak kenal lelah membangun hunian Danantara yang berada di pinggir jalan raya Aceh Tamiang-Langsa di samping Masjid Darussalam tersebut.
Amatan di lapangan, meskipun berstatus hunian sementara, bangunan tersebut terlihat kokoh, bersih dan nyaman. Dilengkapi kebutuhan dasar, bahkan wifi gratis. Di dalam rumah, terdapat dua dipan dan kasur, serta taman untuk anak-anak bermain.
Pewarta: Dede HarisonEditor : M Ifdhal
COPYRIGHT © ANTARA 2026