Aceh Tamiang (ANTARA) - Tujuh perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN Karya) mengerahkan 1.000 pekerja untuk mempercepat proyek pembangunan 600 unit hunian sementara (Huntara) korban bencana banjir di Desa Simpang Empat Upah, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.

"Lebih kurang yang terlibat dalam proyek ini 1.000 orang bekerja diatur tiga shift sehingga setiap pekerja itu tetap terjaga fisiknya," kata Direktur Operasional PT Hutama Karya (HK) sekaligus koordinator proyek Huntara di Aceh Tamiang, Gunandi, di Aceh Tamiang, Senin.

Bangunan Huntara yang akan dibangun sebanyak 600 unit ini berlokasi di lahan milik PTPN 4 Regional VI Langsa seluas 5,1 hektare yang sebelumnya adalah kebun kelapa sawit.

Gunandi mengatakan, meski sedikit menemukan kendala akibat faktor pengiriman material logistik dan cuaca, tetapi progres pekerjaan di lapangan dipastikan tetap berjalan.

"Karena itu kami menyiasati waktu dengan sistem membagi sesi jam kerja pagi, siang dan malam," ujarnya.

Gunadi menjelaskan, pekerjaan ini diprakarsai oleh Danantara dan dibiayai menggunakan dana CSR Himbara dan dikerjakan oleh tujuh BUMN Karya dengan waktu yang sangat mepet.

Pihaknya optimistis di akhir tahun ini sudah ada hasil yang bisa diserahterimakan untuk dimanfaatkan masyarakat terdampak bencana khususnya di Aceh Tamiang. 

"Proyek ini sejak dimulai tanggal 24 Desember, berarti ini hari kelima, energi banyak untuk melakukan pekerjaan clearing (pembukaan lahan) karena ini pohon sawit," katanya.

Kemudian, lanjut Gunadi, elevasi tanah di lokasi ini berada di bawah, sehingga kondisinya terendam dan juga berlumpur. Karena itu, pihaknya menggunakan konstruksi dengan sistem pondasi panggung, sehingga lantai tidak terimbas air manakala terjadi hujan.

Ia menjelaskan, dalam rangka percepatan, pihaknya memobilisasi material dan alat sampai dengan seluruh kebutuhan terpenuhi, baik dari Jabotabek, Medan termasuk dari Langsa dan sumber-sumber di sekitar. 

"Itu kita upayakan sebisa mungkin bisa dimanfaatkan untuk mempercepat pengadaan material ini karena itu faktor logistik," ujarnya.

Dirinya memaparkan, ukuran rumah Huntara itu 4,5x4,5 meter atau 20,25 meter persegi. Sementara material konstruksi menggunakan baja ringan untuk mempercepat proses pekerjaan. 

Dari rangka lantai, dinding dan atap memakai jenis Galvalum, kecuali pondasi dibuat dari beton model panggung. Sedangkan untuk dinding dari bahan kalsiboard, lantai dek multiplek dan atap seng tahan terhadap air dan cuaca.

Huntara ini juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang seperti toilet dan kamar mandi secara terpisah di luar unit. Kemudian, area dapur bersama, mushala area pertemuan, sehingga memungkinkan setiap warga bisa berinteraksi secara bertempat tinggal di lingkungan huntara.

Lalu, untuk meringankan beban warga, tambah Gunadi, PT PLN juga sudah memasang meteran listrik dengan insentif pulsa gratis untuk beberapa bulan ke depan. Sementara dari BUMN Karya, juga membantu menyiapkan jaringan wifi gratis.

"Nanti beberapa akses poin setiap lima rumah itu dipasang satu titik wifi sehingga jaringan akan dekat dan kuat harapannya seperti itu. Tentu akan menolong anak-anak untuk belajar dan orang tua juga akan terhibur dengan adanya wifi yang free tadi," katanya.

Pihaknya menargetkan, Huntara akan mulai ditempati warga pengungsi sebelum masuknya bulan suci Ramadhan 2026.

"Jadi kita punya harapan hunian sementara ini paling tidak bisa meringankan beban warga yang tinggal di tenda-tenda bisa dievakuasi tinggal di sini, semoga secara perlahan warga makin bisa mandiri," demikian Gunadi.

Sementara itu, Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail mengatakan, Pemkab telah merencanakan segera membangun ribuan unit Huntara tersebar di 14 titik. 

Lokasi yang saat ini sudah mulai di bangun dan dalam dekat akan rampung yakni di Desa Simpang Empat Upah, Karang Baru. Huntara ini akan dibagi kepada warga yang kehilangan tempat tinggal dari sejumlah desa terdampak banjir.

"Ada 14 titik lokasi huntara di Aceh Tamiang diantaranya, di kawasan Desa Bukit Rata, Kejuruan Muda sudah kita siapkan lahan seluas 4 hektare dan HGU PT PPP seluas 4 hektare berlokasi di samping Kantor Polisi Militer Karang Baru," demikian Ismail.
 



Pewarta: Dede Harison
Editor : M Ifdhal
COPYRIGHT © ANTARA 2026