Banda Aceh (ANTARA) - Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem resmi menetapkan Aceh berstatus tanggap darurat bencana 2025 menyusul bencana hidrometeorologi berupa banjir dan longsor terjadi hampir di seluruh Aceh sejak beberapa hari terakhir.
"Hari ini, saya Gubernur Aceh menetapkan status keadaan tanggap darurat bencana hidrometeorologi di Aceh 2025," kata Mualem, di Banda Aceh, Kamis.
Pernyataan itu disampaikan Mualem usai menghadiri rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) terkait penetapan rancangan Qanun Aceh tentang APBA 2025, di ruang serbaguna DPR Aceh, di Banda Aceh.
Baca juga: Update banjir Aceh: 10 daerah siaga darurat bencana, dua orang meninggal dan ribuan mengungsi
Mualem menyampaikan, penetapan status tanggap darurat bencana ini berlangsung selama 14 hari, terhitung sejak 28 November 2025 sampai 11 Desember 2025.
Dirinya menegaskan bahwa selama ini Pemerintah Aceh juga telah menyalurkan bantuan darurat ke sejumlah kabupaten/kota, dan kondisi di lapangan hingga saat ini semakin kompleks.
"Kami sampaikan bahwa pemerintah Aceh melalui SKPA terkait telah memberikan bantuan dalam penanganan bencana tersebut," ujarnya.
Penetapan status darurat diharapkan mempercepat mobilisasi logistik, evakuasi, dan dukungan lintas lembaga untuk menangani bencana yang kini meluas di berbagai daerah Aceh.
Disisi lain, Mualem menyebutkan bahwa saat ini akses transportasi di Aceh mulai lumpuh di sejumlah daerah, termasuk putusnya jembatan pada jalan nasional Banda Aceh–Medan, yang menyebabkan distribusi bantuan dan mobilisasi petugas terhambat.
"Kita minta kepada Kapolda Aceh agar menyediakan helikopter untuk keperluan peninjauan ke wilayah-wilayah terisolasi banjir," kata Mualem.
Sebagai informasi, Aceh diguyur hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi lama sejak sepekan terakhir, dan sampai laporan terakhir dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), banjir sudah merendam 20 dari 23 kabupaten/kota di Aceh.
Akibat banjir dan longsor di Aceh, selain rumah, jalan dan putusnya jembatan, banyak lahan pertanian terendam hingga padamnya listrik karena ada tiang-tiang transmisi roboh. Bahkan, musibah hidrometeorologi ini juga telah menelan korban jiwa sebanyak 13 orang.
Baca juga: Aceh Tengah darurat bencana, sembilan warga meninggal tertimbun longsor
Pewarta: Rahmat FajriEditor : Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2025