Banda Aceh (ANTARA) - Rombongan pengantin terpaksa menyeberangi sungai menggunakan perahu milik tim SAR BPBD setelah jalur darat tidak bisa dilalui akibat putus dibawa banjir di Desa Asan Rampak, Kecamatan Peudawa, Kabupaten Aceh Timur.
Ketua SAR Aceh Timur Herman di Aceh Timur, Selasa, mengatakan jembatan yang menjadi akses utama warga itu ambruk beberapa waktu lalu setelah bagian fondasi tergerus arus deras.
"Mereka meminta bantuan ke BPBD Aceh Timur, sehingga kami menurunkan petugas SAR untuk menurunkan armada perahu demi memastikan dara baro bisa tiba tepat waktu di lokasi pesta adat," kata Herman.
Warga, kata Herman, biasanya, melintas menggunakan sepeda motor lewat jembatan tersebut, tetapi karena jembatan tersebut rusak, sehingga terpaksa tidak mempunyai pilihan selain mencari jalur alternatif.
Dia mengatakan petugas SAR langsung merespons dan mengarahkan satu unit perahu ke tepian Sungai Asan Rampak.
Suasana haru sekaligus panik terlihat saat rombongan pengantin mulai menaiki perahu. Keluarga berdiri di pinggir sungai sambil memastikan sang dara baro dan rombongan perempuan lain naik dengan aman.
Petugas SAR tampak mengatur posisi penumpang satu per satu karena arus sungai sedang deras.
Baca: BPBD: Sebanyak 3.698 rumah di Aceh Timur terendam banjir
"Kondisinya memang tidak memungkinkan bagi warga menyeberang tanpa bantuan. Jembatannya putus total, jadi perahu ini satu-satunya akses tercepat," kata Herman.
Perjalanan menyeberangi sungai berlangsung beberapa menit, namun cukup memacu adrenalin karena tinggi gelombang sungai meningkat akibat curah hujan di hulu.
Meski begitu, akhirnya rombongan tiba dengan selamat di seberang dan langsung dijemput keluarga untuk melanjutkan rangkaian adat.
Herman mengatakan petugas SAR ketika membawa pengantinnya pengawalan dilakukan penuh kehati-hatian. Mereka memastikan keseimbangan perahi terjaga karena membawa penumpang dengan pakaian adat yang cukup berat dan rentan basah jika terkena percikan air.
Sejumlah warga berkumpul di tepi sungai untuk membantu dan menyaksikan momen tersebut.
Lukman, warga setempat, mengatakan kerusakan jembatan ini sudah berlangsung sepekan terakhir, namun hingga kini belum dilakukan perbaikan permanen.
Warga mengaku khawatir jika kondisi dibiarkan lebih lama, terutama mengingat jalur tersebut penting untuk akses ekonomi, pendidikan, hingga keadaan darurat medis.
"Ini bukan hanya tentang acara pengantin. Kalau setiap hari warga harus menyeberang dengan perahu kecil. Kalau ada orang sakit atau ibu hamil, sangat berbahaya," kata Lukman.
Baca: BPBD: Sebanyak 266 desa di Aceh Timur rawan banjir
Pewarta: HayaturrahmahEditor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA 2025